Profil Ahmed al-Sharaa: Jejak Kelam, Ambisi Politik, dan Tarik Ulur dengan Trump
CERITAORISINAL - Dunia melihat perubahan tak terduga di Timur Tengah ketika Ahmed al-Sharaa, mantan militan Al Qaeda, bertemu dengan Presiden AS Donald Trump di Arab Saudi pada 14 Mei 2025. Pertemuan ini menandai kebangkitan politik Sharaa, yang sebelumnya dikenal sebagai Abu Mohammad al-Golani, komandan Nusra Front dalam perang Suriah.
Pertemuan terjadi setelah Trump mencabut sanksi AS terhadap Suriah, mengubah posisi internasional negara yang terisolasi tersebut. Bagi Sharaa, dukungan dari AS menjadi penting untuk menyatukan negara yang terpecah dan memulihkan ekonomi yang terpuruk akibat sanksi. Dalam wawancara dengan Reuters, Sharaa menyatakan betapa mengejutkannya ia berada di istana dan melihat kejahatan yang terjadi di masyarakat.
Sharaa, lahir di Arab Saudi, pertama kali masuk Suriah pada awal 2000-an atas perintah Al Qaeda untuk memperluas jaringan jihad. Ia terkenal saat memimpin Nusra Front dan dicantumkan dalam daftar teroris oleh AS pada 2013 karena berusaha menggulingkan Assad dan menerapkan hukum syariah. Namun, pada 2016, ia memutuskan hubungan dengan Al Qaeda dan mulai mengubah citra kelompoknya menjadi bagian dari revolusi nasional Suriah. Setelah berhasil mengambil alih Damaskus pada Desember 2024, ia mengumumkan pemerintahan baru yang menjanjikan keadilan dan inklusivitas.
Kemenangan militer Sharaa didukung oleh penurunan dukungan Rusia dan Iran terhadap Assad dan mendapat dukungan dari beberapa negara, tetapi janji reformasinya belum sepenuhnya terwujud. Banyak kelompok bersenjata enggan menyerahkan senjata, dan konflik sektarian masih menjadi masalah. Israel memperingatkan agar pasukan Sharaa tidak mendekati perbatasan mereka.
Tantangan muncul ketika loyalis Assad menyerang pasukan Sharaa, menyebabkan ribuan warga sipil tewas dan menimbulkan kekhawatiran bahwa pemerintahannya hanya akan menggantikan satu jenis otoritarianisme dengan yang lain. Sharaa menjanjikan pemilu, tetapi konstitusi sementara ternyata memberikan kekuasaan besar padanya. Mengenai hukum syariah, ia tidak memberikan jawaban langsung. Transformasinya menjadi sorotan internasional, terutama mengingat latar belakangnya yang kontroversial. Sharaa juga mengklaim Nusra Front tidak pernah menjadi ancaman bagi Barat dan lebih "terukur" dalam interaksinya dengan warga sipil dibanding ISIS.
Narasumber https://ceritaorisinal.blogspot.com/